Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Anak (Cernak) "BDR Nih Ye"

 

Cerita Anak (Cernak) "BDR Nih Ye" Cerita Bahasa Jawa Karya Rita Nuryanti Kenya Giri Seta

BDR NIH YE


Rita Nuryanti (Kenya Giri Seta)


        “BDR lagi..., BDR lagi. Sebel aku!” Arga kecewa. Dia telah membayangkan, di tahun pelajaran baru akan kembali berjumpa dengan teman-teman setelah lebih dari tiga bulan Belajar dari Rumah (BDR). Harapan Arga telah sirna di saat Bu Rizka melalui WhatsApp kelas mengumumkan, karena masih pandemi covid 19 atau corona, pembelajaran masih model daring, dalam jaringan. Belum ada tatap muka.
       “Sekolah itu ya di sekolah! Masa di rumah. Namanya juga rumah, bukan sekolah!” Pagi, di saat akan memulai membuka handphone untuk pembelajaran melalui google classroom, Arga  uring-uringan. “Saya belajar dari rumah, mengapa Papa Mama bekerja tidak dari rumah? Tidak adil, dong!”
        “Arga, adil itu tidak mesti harus sama. Arga jika makan bakso satu mangkok penuh, habis. Apakah adik bayi juga? Gak, kan?”
        “Mama, ini masalahnya sekolah dan kerja. Bukan makan.”
        Mama mendekat. Dengan lembut Mama menjelaskan mengapa siswa masih harus belajar di rumah sedangkan para pegawai kantor bekerja di tempat instansi maasing-masing. Awalnya Arga masih membantah, namun akhirnya bisa menerima juga.
        “Sudah ya, Nak. Belajar dengan baik. Jika ada kesulitan   tanya pada Mbak Nisa. Untung Mbak Nisa belum kuliah. Kamu ada teman untuk berdiskusi.” Mama berangkat kerja dengan perasaan lega.
        Sejenak Arga asyik dengan buku dan hpnya. Namun tak lama kemudian dia mendekat dan merajuk pada Nisa. “Mbak Nisa, tolonglah adikmu ya malang ini, Mbak!”
        Nisa yang tengah membaca buku terpaksa berhenti. “Ada apa?”
        “Tolong ya, Mbak. Selesaikan tugas. Tinggal sedikit kok.”
        “Aneh. Siapa yang sekolah?”
        “Sekali ini saja, Mbak. Mungkin besok diulangi lagi, he he....”
        “Gak mau!”
        “Bener, Mbak. Ini jam pertama dan kedua tidak ada jeda. Buku paket yang kemarin dipinjamkan, tertinggal di rumah Dewa. Mbak tinggal pilih, membantu sekarang atau nanti.”
        “Sekarang saja, deh!”
        “Terima kasih kakakku yang baik hati. Mbak pakai laptop saja ya, hp saya bawa.”
        Dengan perasaan senang, Arga mengeluarkan sepeda dari garasi. Bukan rumah Dewa yang dituju, namun taman kota. Arga telah janjian dengan Dewa bertemu di taman kota. Tugas daring telah diserahkan kepada kakak masing-masing.
        “Ha ha ha..., mahasiswa kok dengan mudah kita kelabuhi.”
        “Besok, jika ingin main lagi,  cari alasan apa ya?”
        Arga dan Dewa bangga bisa ngerjain kakak mereka. Memang enak, di rumah terus berkutat dengan tugas dari bapak ibu guru? Itu alasannya.
        “Mabar, yok!” Ajak Arga.
        “Kita duduk di gasebo sebelah timur saja, yang  dekat dengan jalan!” jawab Dewa.
        Keduanya beranjak menuju gasebo. Duduk, mengeluarkan hp. Mabar, main bareng. Memainkan game yang sama, saling berhadapan layaknya bermain bola. Asyik. Sesekali mereka berteriak mengatur permainan lawan atau bersorak permainannya berhasil.
        Klunthing, ada WA masuk di hp Arga, disusul hp Dewa.
        “Lho?! Kok bersamaan. buka dulu ya.”
        Keduanya segera menghentikan permainan. Buka WA. “Ha?!!” Kaget seperti tersambar geledek. Kiriman foto dari Bu Rizka bertuliskan, “BDR nih ye?!”
        Arga dan Dewa tengok kanan kiri. Ternyata Bu Rizka tengah berdiri di trotoar dan melempar senyuman.
        “Bu Rizkaaaaa....” Arga dan Dewa lari terbirit. Mengambil sepeda, mengayuh sekuat tenaga agar tak terkejar Bu Rizka. Dalam hati berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat Kolom Cerita Anak

Jumat Kliwon, 7 Agustus 2020

 

 

Kusworo, M. Pd.
Kusworo, M. Pd. Mencoba menulis pengalaman, agar bisa dibaca oleh orang lain, semoga bermanfaat. Nomor Whatsapp +6281326649494