Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Anak "Indahnya Berbagi"

 

Cerita Anak "Indahnya Berbagi" Karya Rindhawara

INDAHNYA BERBAGI

oleh : Rindhawara Annisa Puspandari

        “Tap..., tap..., tap!” Reno berjalan perlahan. Kaki seakan ditahan, jangan sampai menimbulkan suara. Pandangan memutar ke kanan ke kiri, melihat keadaan jangan sampai ada yang mengetahui.

    “Sudah aman,” batin Reno. Dengan sangat hati-hati, tangannya membuka almari. Satu persatu jajanan dari ibu dimasukkan ke dalam. Ada biskuit, susu, minuman berasa, dan beberapa makanan kecil kesukaannya.  Ia tidak rela jika semua makanan itu harus dibagi  dengan Tara, kakaknya.

        Setelah menata makanan dengan rapi, siswa kelas dua SD itu keluar kamar dengan perasaan bahagia. Menonton televisi sambil menikmati biskuit coklat dan susu kotak rasa vanilla. Reno tidak menyadari bahwa ibu memanggilnya dari tadi.

    “Reno....”
    “Eh, iya Bu?” Reno mendekat.
    “Makanan tadi sudah dibagi dua?”
    Reno tersentak. “Su..., su... dah, Bu!” jawabnya berbohong.

    “Terus, tadi kamu menyimpan makanan ke almari buat apa? Tengok kanan kiri pula, seperti takut ketahuan. Kamu tidak mau berbagi ya? ” kata ibu.

    “Aduh, gawat. Kenapa ibu bisa tahu ya?” kata Reno dalam hati. “Biar tidak dikerumuni semut, Bu!” Reno menjawab sekenanya.

    “Beneran? Kamu nggak bohong kan?”

    “Em, iya Bu. Reno suka semua makanan itu. Nanti Mas Tara dibelikan yang lain aja ya?” Reno menyerah. Setiap kali ia berbohong, ibu selalu mengetahui. Ada perasaan tidak enak ketika akan mempertahankan kebohongan pada ibu. Akhirnya, Reno mesti berkata jujur. Apa adanya.

    Ibu menggelengkan kepala. “Coba sini, lihat apa yang akan terjadi!”

    Ibu mengambil beberapa butir gula pasir. Ditaruh di lantai. Beberapa saat kemudian, semut berdatangan. Reno mmperhatikan dengan seksama. Semut-semut itu nampak rukun, seakan berpesta menikmati manisnya gula  yang tidak seberapa banyaknya. Sedikit namun mencukupi. Tidak ada yang berdesakan dan ingin menang. Semua ikut merasakan.

    “Bagaimana Reno?” tanya Ibu.

    “Semutnya baik ya, Bu. Makanan sedikit saja dinikmati bersama-sama.” Reno kagum pada semut-semut itu.

    “Jadi, kamu tahu maksudnya kan?”

    Reno diam. Ia teringat sudah menyembunyikan makanan, untuk dimakan sendiri, dan  Mas Tara tidak mendapat bagian. Padahal kata ibu, makanan itu untuk berdua.

    “Baiklah Bu, nanti juga, begitu Mas Tara sampai rumah, Reno akan berbagi sama banyak,” janji Reno.

    Namun, sampai malam tiba, kakaknya itu belum juga pulang. Sampai Reno mengantuk dan memutuskan untuk tidur.

    Pagi harinya, Reno bangun kesiangan. Ia ingat janjinya. Kakinya melangkah, mencari Mas Tara. Namun, tidak ada di kamarnya.

    “Kamu mencari Mas Tara ya?” tanya Ibu. “Sudah berangkat kemah mruput sejak pagi. Pulangnya juga malam karena mempersiapkan perkemahan.”

    “Terus gimana makanannya, Bu? Kan Reno sudah janji,” Reno merasa bersalah.
    “Nanti sore kita jenguk, kamu bawakan bagiannya. Pasti suka!” kata Ibu.

    Reno tidak sabar menunggu sore hari tiba. Ia akan minta maaf kepada kakaknya karena sudah berniat pelit. “Indahnya berbagi.” Reno membayangkan  telah bertemu Mas Tara, menikmati makanan bersama. Sangat  lezat karena didasari perasaan senang, nikmatnya kebersamaan.


Dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat Kolom Cerita Anak

Jumat, 13 November 2020

Rindhawara Annisa Puspandari



Kusworo, M. Pd.
Kusworo, M. Pd. Mencoba menulis pengalaman, agar bisa dibaca oleh orang lain, semoga bermanfaat. Nomor Whatsapp +6281326649494

Berlangganan via Email